Tampilkan postingan dengan label Syi'ah Bukan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syi'ah Bukan Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2013

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu diantara aqidah syiah yang paling berbahaya adalah doktrin taqiyah. Taqiyah dalam ajaran syiah adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. Baik untuk tujuan menjaga diri dari gangguan luar atau untuk menimbulkan kesamaran di tengah masyarakat tentag hakekat syiah atau untuk menyudutkan lawan syiah.
Taqiyah dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Ungkapan lainnya artinya nifaq dan menipu, sebagai usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Dengan bahasa yang lebih ringkas, taqiyah hakikatnya adalah berdusta.
(Simak keterangan Muhammad Jawad Mughniyah, dalam bukunya As-Syiah fil Mizan).

Taqiyah, Rukun Penting dalam Agama Syiah

Taqiyah menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. Para tokoh syiah membuat berbagai riwayat dusta atas nama ahlul bait, untuk memotivasi umat Syiah agar melakukan taqiyah. Taqiyah mereka jadikan prinsip hidup yang tidak terpisahkan dalam ajaran syiah. Berikut beberapa riwayat dusta atas nama ahlul bait, tentang pentingnya Taqiyah,
Pertama, taqiyah bagian dari agama
Keterangan Al-Kulaini, tokoh syiah ini meriwayatkan dari Ja’far As-Shadiq,
التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له
“Taqiyah bagian dari agamaku dan agama bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”
Dia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far,
إن تسعة أعشار الدين في التقية , ولا دين لمن لا تقية له
“Sesungguhnya sembilan persepuluh (90%) bagian agama adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”
[Ushul Al-Kafi 2/217, Biharul Anwar 75/423, dan Wasail Syiah 11/460].
Kedua, taqiyah merupakan akhlak paling mulia
Keterangan At-Thusi. Dalam bukunya Al-Amali, dia meriwayatkan dari Ja’far,
ليس منا من لم يلزم التقية , ويصوننا عن سفلة الرعية
“Bukan bagian dariku, orang yang tidak menekuni taqiyah, dan tidak melindungi kami dari rakyat jelata.”
Kemudian dalam Al-Ushul Al-Ashliyah, At-Thusi juga meriwayatkan dari Imam Al-Baqir, bahwa beliau ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling sempurna?’ Jawab Imam Al-Baqir,
أعلمهم بالتقية … وأقضاهم لحقوق إخوانه
“Orang yang paling tahu tentang taqiyah.. dan yang paling sempurna dalam menunaikan hak saudaranya.”
Juga diriwayatkan dari Al-Baqir,
أشرف أخلاق الأئمة والفاضلين من شيعتنا استعمال التقية
“Akhlak paling mulia dari para imam dan orang-orang penting dari kelompok kami adalah melakukan taqiyah.”
Kemudian, dalam kitab Al-Mahasin, dari Habib bin Basyir, dari Abu Abdillah,
لا والله ما على الأرض شيء أحب إلي من التقية، يا حبيب إنه من له تقية رفعه الله يا حبيب من لم يكن له تقية وضعه الله
“Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini, sesuatu yang lebih aku cintai melebihi taqiyah. Wahai Habib, orang yang melakukan taqiyah, Allah akan angkat derajatnya. Wahai Habib, siapa yang tidak melakukan taqiyah, akan Allah rendahkan.”
Ketiga, taqiyah hukumnya wajib, meninggalkan taqiyah = meninggalkan shalat
Tokoh Syiah Ibnu Babawaih mengatakan,
اعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها بمنزلة من ترك الصلاة
“Keyakinan kami tentang taqiyah, bahwa taqiyah itu wajib. Siapa yang meninggalkan taqiyah, seperti orang yang meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hlm. 114).
Untuk mendukung keterangannya, dia tidak malu untuk berdusta atas nama Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyantumkan hadis palsu,
تارك التقية كتارك الصلاة
“Orang yang meninggalkan taqiyah, sama dengan orang yang meninggalkan shalat.”
[Simak Jami’ Al-Akhbar, hlm. 110 dan Bihar Al-Anwar, 75/412]

Ketika Bohong Menjadi Prinsip Agama

Apa yang bisa anda simpulkan, ketika bohong kebiasaan hidup seseorang atau menjadi prinsip hidup seseorang. Anda tentu yakin, orang ini akan selalu diwaspadai oleh rekan dan lingkungannya. Karena dia bisa menipu siapapun, kapanpun dan di manapun.
Bagi syiah, taqiyah (baca: berbohong) tidak semata menjadi prinsip hidup. Lebih dari itu, mereka meyakini, taqiyah merupakan amal sholeh yang menjadi sumber pahala. Berbohong demi syiah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang akan meningkatkan derajatnya.
Mereka bisa memiliki 1000 wajah untuk mengelabuhi masyarakat tentang siapakah sejatinya syiah. Mereka bisa berdusta dan berbohong, kapanpun dan dimanapun, demi pencitraan syiah. Mereka bisa berbohong untuk membangun opini positif di mata publik tentang Iran. Mereka tidak segan berdusta, untuk menarik simpati kaum muslimin terhadap syiah. Mereka bisa berdusta untuk menciptakan kesan, syiah adalah kelompok minoritas yang tertindas. Mereka juga tidak segan berdusta, menampakkan perlawanan terhadap Zionis yahudi di mata dunia, meskipun sejatinya mereka sendiri seperti yahudi.
Siapa sasarannya?
Tentu saja bukan kepada sesama syiah. Bohong ini mereka arahkan kepada kelompok yang mereka anggap sebagai musuh besar syiah, yaitu kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah. Kami, anda, dan seluruh kaum muslimin yang bukan syiah adalah sasaran utama kebohongan taqiyah itu.
Itulah yang menjadi landasan Khomaini untuk memobilisasi masa. Dia menekankan kepada para pengikutnya, kaum muslimin selain syiah sama sekali tidak memiliki kehormatan, layaknya orang kafir. Menipu mereka atau bahkan menumpahkan darah mereka adalah tindakan mulia yang layak dilakukan semua orang syiah.
Dalam bukunya Al-Makasib Al-Muharramah, Khomaini mengatakan,
فلا شبهة في عدم احترامهم، بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون أكثروا في الطعن واللعن عليهم، وذكر مساويهم… والظاهر منها جواز الافتراء والقذف عليهم.
“Tidak ada lagi keraguan, bahwa mereka (ahlus sunah), tidak memiliki kehormatan. Bahkan itu bagian prinsip penting dalam madzhab syiah, sebagaimana yang disampaikan ulama. Orang yang mempelajari berbagai riwayat yang banyak dalam berbagai kajian yang berbeda, tidak akan ragu tentang bolehnya merusak mereka dan menyakiti mereka. Bahkan para imam maksum, sangat sering mencela, melaknat, serta menghina mereka (ahlus sunah)….dan yang zahir, boleh membuat kedustaan dan melemparkan kedustaan kepada mereka”
[Al-Makasib Al-Muharramah, Al-Khumaini, Muassasah Ismailiyan, cet. Ketiga, 1410 H. Jilid 1, hlm. 251 – 252].
Hal yang sama juga disampaikan Al-Khou’i – salah satu tokoh syiah yang sangat membenci ahlus sunah – ,
… وأما هجو المخالفين أو المبدعين في الدين فلا شبهة في جوازه؛ لأنه قد تقدم في مبحث الغيبة، أن المراد بالمؤمن هو القائل بإمرة الإثني عشر (عليهم السلام)، … ومن الواضح أن ما دل على حرمة الهجو مختص بالمؤمن من الشيعة، فيخرج غيرهم عن حدود حرمة الهجو موضوعاً…. أنه قد تقتضي المصلحة الملزمة جواز بهتهم والإزراء عليهم، وذكرهم بما ليس فيهم افتضاحاً لهم، والمصلحة في ذلك استبانة شؤونهم لضعفاء المؤمنين، حتى لا يغتروا بآرائهم الخبيثة
“Menghina kaum yang menyimpang atau para pelaku bid’ah dalam agama (ahlus sunah), tidak samarnya, hukumnya boleh. Sebagaimana pembahasan ghibah yang telah lewat, bahwa yang dimaksud orang mukmin adalah mereka yang mengikuti prinsip kepemimpinan imam dua belas ‘alaihimus salam,… dan sangat jelas, dalil yang menunjukkan larangan menghina, hanya tertuju kepada orang syiah yang beriman. Sehingga tidak termasuk selain syiah, mereka di luar batas larangan penghinaan.… Berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang kuat, boleh memfitnah mereka, melemparkan kedustaan kepada mereka, menyebutkan kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk mempermalukan mereka. Bentuk maslahat dalam hal ini adalah membeberkan keadaan buruk mereka, mengingat kaum muskminin (baca: Syiah) masih lemah. Sehingga syiah yang lemah iman ini tidak tertipu dengan pemikiran buruk mereka…”
[Misbah Al-Faqahah, Al-Khou’i, penerbit Al-Ilmiah, Qom, cet. Pertama, jilid 1, hlm. 700 – 701].
Allahul musta’an, seperti itulah kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Berlindunglah kepada Allah, agar anda tidak menjadi salah satu korban kekejaman mereka.

Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah

Memahami kenyataan prinsip taqiyah, para ulama kaum muslimin sejak masa silam telah mengingatkan penipuan mereka. Mereka menolak informasi dari syiah, karena memiliki sifat dasar: pembohong. Berikut pernyataan mereka,
1. Keterangan Imam Malik
Asyhab – ulama Malikiyah – mengatakan,
سئل مالك عن الرافضة ؟ قال لا نكلمهم ولا نروي عنهم فإنهم يكذبون
“Imam Malik ditanya tentang rafidhah (syiah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”
2. Keterangan Imam As-Syafii
Diriwayatkan oleh Harmalah – salah satu murid Imam As-Syafii –,
سمعت الشافعي يقول لم أر أشهد بالزور من الرافضة
“Saya mendengar As-Syafii mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi rafidhah (syiah).”
3. Yazid bin Harun Al-Wasithi – salah satu ulama tabi’ tabiin – mengatakan,
يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون
“Boleh ditulis semua hadis dari pelaku bid’ah, selama dia bukan tokohnya. Kecuali rafidhah, karena mereka suka berdusta.”
[Simak 3 keterangan di atas dalam An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah, Az-Zarkasyi, 3/399 dan Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327].
4. Syarik bin Abdillah – seorang Qadhi Kufah di zaman Imam Abu Hanifah – mengatakan,
أحمل العلم عن كل من لقيت إلا الرافضة فإنهم يضعون الحديث ويتخذونه دينا
“Saya menimba ilmu (hadis) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali rafidhah (syiah). Karena mereka memalsu hadis dan menjadikannya sebagai aturan agama.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).
5. Bahkan hanya sebatas mencela sahabat, hadisnya sudah tidak boleh diterima, karena diduga syiah. Itulah kehati-hatian yang dilakukan Ibnul Mubarok – gurunya Imam Bukhari –, beliau mengatakan,
لا تحدثوا عن عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف
“Janganlah kalian mengambil hadis dari Amr bin Tsabit. Karena dia melaknat para sahabat.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).
6. Syaikhul Islam mengatakan
وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب
“Para ulama sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa rafidhah (syiah) adalah kelompok paling pendusta. Dan dusta bagi mereka, ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” Selanjutnya, Syaikhul Islam menyebutkan beberapa riwayat di atas. (Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, 1/59).
7. Keterangan lainnya dari Ibnu Hazm, dalam karyanya tentang firqah dan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada islam,
… إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة …وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر
Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis denga Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, Ibnu Hazm, 1/176).

Atas Nama Ahlul Bait

Selanjutnya anda bisa menilai klaim mereka sebagai pengikut ahlul bait. Anda bisa menilai kebenaran pengakuan mereka sebagai pemilik riwayat dari Ahlul Bait.
1. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan kawin kontrak (nikah mut’ah) yang sama sekali tidak berbeda dengan zina?
Sebagai referensi penilaian, anda bisa simak aturan nikah mut’ah dan tarifnya di Iran:
2. Mungkikah ahlul bait mengajarkan kaum muslimin untuk melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?
Sebagai referensi penilaian, anda bisa pelajari:
3. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan doktrin bahwa Al-Quran telah berubah? Mungkinkah mereka masih menyimpan Al-Quran, dan tidak diajarkan kepada kaum muslimin yang lainnya dan hanya dimiliki syiah.
Sebagai referensi, anda bisa pelajari,
4. Mungkinkah ahlu bait mengajarkan kultus kepada para Imam, dan orang shaleh. Sampai memposisikan mereka layaknya Tuhan.
Sebagai referensi, anda bisa pelajari,
5. Dan mungkinkah ahlul bait mengajarkan umat untuk rajin berdusta?? Sehebat apapun penipu, dia tidak akan pernah mau ditipu.
Masih ada segudang keyakinan aneh syiah, yang dia klaim sebagai ajaran ahlul bait. Anda bisa pelajari di:

Penjelasan Syiah lebih Ilmiah?

Karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang menjadikan keterangan syiah sebagai referensi yang dihargai. Bagaimana mungkin, pendusta dan pembohong bisa menjadi rujukan dalam informasi. Terlebih di saat musim ketegangan antara kaum muslimin dan kelompok syiah.
Lebih menyedihkan lagi, ketika ada orang yang tertipu dan menganggap keterangan tokoh syiah lebih ilmiah. Anda boleh geleng kepala… bohong, dianggap ilmiah. Sayangnya, mereka yang tertipu dengan kebohongan syiah kebanyakan dari kalangan civitas akademik universitas-universitas ‘islam’ (dalam tanda kutip) di Indonesia.
Sebagai contoh, anda bisa saksikan, bagaimana upaya pembelaan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Basyar, yang membantai kaum muslimin Suriah.
Beberapa klaim yang sering kita dengar, yang mengunggulkan syiah,
1. Syiah penganut ahlul bait
2. Sunni mendapat riwayat dari sahabat, dan syiah mendapat riwayat dari ahlul bait
3. Iran musuh besar Amerika & Zionis Yahudi
4. Iran memiliki bom nuklir yang membuat Amerika & Zionis Yahudi gentar
5. Iran & Syiah, musuh barat – pembebas palestina
6. Iran negera islam makmur & berperadaban
7. Iran pemimpin peradaban islam dunia
8. Perjuangan sang revolusioner ayatollah Khumaini
9. Ahmadi Nejad, pemimpin muslimin dunia yang rendah hati
10. Al-Quran kita sama
Dan sejuta klaim lainnya. Namun sayang, banyak orang yang rela untuk jadi korban kedustaan mereka. Semoga kita tidak termasuk…

Kang Jalal Berdusta

Jika anda mendengar kalimat ini maka benarkanlah. Tokoh sentral syiah indonesia ini, sering sekali menukil dalil atau keterangan ulama dengan cara serampangan. Tidak lain, dalam rangka mengelabuhi masyarakat tentang hakekat syiah. Sekalipun harus memlintir ayat Al-Quran atau hadis, atau keterangan ulama. Yang penting, syiah menang.
Anda bisa simak beritanya di:
Sudah saatnya anda buang jauh-jauh citra orang ini, agar anda tidak termasuk korban penipuannya.

Buku-buku Syiah

Pernahkah anda mendapatkan buku syiah dijual bebas di pasaran? Pernahkah anda membeli referensi asli syiah beredar di toko-toko buku? Bagian ini yang mungkin sering kita lupakan. Mengapa mereka begitu merahasiakan buku-buku dan referensi asli mereka? Informasi dari beberapa rekan yang ingin mencari fakta, merasa kesulitan untuk mendapatkan buku asli karya ulama-ulama syiah Iran. Itulah sikap eksklusif Iran. Dia jauh lebih tertutup dibandingkan Amerika. Seolah, pemerintah Iran berusaha menutup rapat, jangan sampai kaum muslimin dunia mempelajari aqidah, doktrin dan ajaran Syiah Iran. Kecuali jika kita telah menjadi syiah. Kita bisa dengan mudah mendapatkan referensi asli mereka. Tapi sekali lagi…, jika otak kita sudah terinstal program syiah.
Ini berbeda dengan Saudi. Pemerintah Saudi sangat gencar menyebarkan buku-buku gratis ajaran islam yang didakwahkan di Saudi kepada umumnya masyarakat. Mereka begitu terbuka di hadapan kaum muslimin. Seolah Saudi ingin berteriak kepada kaum muslimin, silahkan pelajari seluruh aqidah, doktrin dan ajaran kami. Dan silahkan memberikan penilaian, apakah ajaran kami sesat ataukah sesuai Al-Quran dan sunah. Anda bisa menilai, jika memang prinsip beragama yang diajarkan oleh pemerintah Saudi itu sesat, mereka akan berusaha merahasiakannya, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Iran terhadap ajaran Syiah.

Buka Kedok dengan Referensi Asli

Karena itu, ketika seseorang hendak debat dengan syiah, dia wajib mempelajari buku-buku syiah. Referansi asli yang ditulis oleh tangan-tangan tokoh syiah. Tanpa ini, dia hanya akan menjadi bahan tipuan orang syiah yang menjadi lawan debatnya. Sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu dai di Jogja, hingga akhirnya dia mengikuti Syiah.
Dengan buku asli, ketahuan kedoknya. Di situlah syiah tidak bisa mengelak. Mereka tidak bisa mengelabuhi. Karena wajah asli syiah, ada dalam karya tokoh aliran sesat ini. Sekalipun sejuta kemunafikan untuk menutupi dirinya, dia tidak akan bisa mengelak jika ditunjukkan ucapan tokohnya.
Sungguh betapa capeknya dakwah melawan syiah. Karena doktrin yang paling berbahaya yang mereka miliki: taqiyah, yang hakekatnya adalah kemunafikan. Semoga Allah melindungi kita dari kelompok munafik, yang menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin ini.
Allahu a’lam
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sejarah Kemunculan Syi’ah

Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan..
Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi)
Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm)
Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.
Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.
Saat itu mereka terbagi menjadi tiga golongan.
  1. Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:
    من بدل دينه فاقتلوه
    “Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia“
  2. Golongan Sabbah (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri
  3. Golongan Mufadhdhilah, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,
    خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر
    “Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”.
    Riwayat semacam ini dibawakan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, Umar.
Dalam sejarah syiah mereka terpecah menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian banyak cabang-cabang sekte lainnya.
Dari lima sekte tersebut yang paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.
Rafidhah menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada mereka:
رَفَضْتُمُوْنِي؟
“Kalian tinggalkan aku?”
Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).
Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut persangkaan mereka).
Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).
Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan diri.
Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123)
Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte syiah yang paling ringan kesalahannya.
[Disusun dari dari berbagai sumber, di antaranya kitab Al-Furqon Bainal Haq Wal Batil tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, judul bahasa indonesia “Membedah Firqoh Sesat” penerbit Al-Qowam]
—
Penyusun: Satria Buana
Artikel Muslim.Or.Id