Tampilkan postingan dengan label anwa'un. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anwa'un. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Desember 2013

Tanda Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Segala puji hanyalah milik Allah Taalayang seluruh perkara berada di tangan-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du.
Menuntut ilmu adalah sebuah ibadah yang sangat mulia. Ilmu adalah kunci pembuka untuk amalan-amalan lainnya. Karena dengan ilmu, seorang hamba bisa mengetahui bagaimana seharusnya dia beribadah kepada Rabb-nya, mengetahui apa saja kewajiban yang harus ia jalankan, serta mengetahui apa saja larangan yang harus ia jauhi. Oleh karena itulah,  keikhlasan dalam menuntut ilmu adalah suatu hal yang harus terus dijaga oleh kita semua agar ibadah yang sangat mulia ini tidak menjadi debu yang berhamburan di sisi Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan agama kepada-Nya” (QS. Al Bayyinah : 5)
Tanda Ikhlas dalam menuntut ilmu
Keikhlasan dalam menuntut ilmu akan memberikan pengaruh kepada pribadi orang tersebut yang dapat dirasakan oleh orang yang berada di sekitarnya. Di antara tanda-tanda ikhlas dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut :
1- Membuahkan ilmu yang bermanfaat
Tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ
“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)
Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya khususnya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, dan seterusnya. Tidak hanya itu, manfaat ilmunya juga meluas kepada orang-orang di sekitarnya dengan akhlaknya yang semakin mulia serta ilmu yang telah ia raih ia ajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya.
Inilah tanda yang pertama yang menjadi poros bagi tanda-tanda lainnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
2- Mengamalkan ilmu
Ilmu dicari untuk diamalkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan bertanya kepada semua orang yang telah belajar, apa yang telah mereka amalkan dari ilmu yang ia miliki?
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ … وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi, beliau nilai hasan shahih. Dan dinliai shahih oleh Al Albani)

Ketika seseorang memiliki niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka ia akan mengerti bahwa ilmu yang ia cari bukanlah tujuan akhir, tetapi bekal dia untuk beramal sehingga ia akan berusaha mengamalkan setiap ilmu yang ia miliki. Adapun orang yang niatnya rusak, maka mengamalkan ilmu bukanlah tujuan yang hendak ia capai. Oleh  karena itu, Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya” (Iqtidhaa-ul ‘Ilmi Al ‘Amal hal. 18, dinukil dari Tsamaratul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal. 45)
3- Terus memperbaiki niat
Orang yang merasa telah ikhlas dalam menuntut ilmu merupakan ciri tidak ikhlasnya ia dalam menuntut ilmu. Orang yang ikhlas justru terus memperbaiki dirinya dan meluruskan niatnya dalam setiap amalannya dan tidak merasa dirinya telah ikhlas. Sebagaimana yang dikatakan ‘Amr,“Barangsiapa yang mengatakan dirinya adalah orang yang berilmu, maka dia adalah orang yang bodoh”. Ibnu Rajab mengatakan, “Orang yang jujur akan merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan dan takut mengalami su-ul khatimah” (lihat Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 30-31)
4- Semakin tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)
Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya. Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh” (dinukil dari Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 26).
Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.
5- Membenci pujian dan ketenaran
Senang dipuji dan cinta ketenaran adalah awal malapetaka pada diri seorang penuntut ilmu. Tidakkah kita ingat kisah tiga orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Rasulullah menyebutkan salah satu diantara mereka,
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Seseorang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Lalu ia didatangkan dan dipaparkan kepadanya segala nikmat yang telah ia raih, lantas ia mengakuinya. Lalu ia ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat tersebut?”. Ia menjawab, “Aku menuntut ilmu juga mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur’an karena-Mu”. Lalu dikatakan padanya, “Kamu dusta! Kamu itu menuntut ilmu supaya dijuluki sebagai orang yang berilmu! Kamu juga membaca Al Qur’an karena ingin dikenal sebagai qari! Dan kamu pun telah mendapatkannya!”. Lalu orang tadi diseret di atas wajahnya lalu dilempar ke neraka” (HR. Muslim)
6- Semakin tawadhu’ di hadapan manusia
Bagai ilmu padi, ilmu yang bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan membuat pemiliknya semakin tawadhu’ di hadapan orang lain, tidak merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 31)
Nasihat Penutup
Itulah di antara sedikit tanda-tanda lurusnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Sebagai penutup, kami bawakan sebuah nasihat indah dari Imam Al Ghazali rahimahullah teruntuk kita semua. Beliau mengatakanBetapa banyak malam yang telah kau hidupkan dengan mengulang-ngulang ilmu dan membaca berbagai macam buku, dan kau halangi dirimu dari tidur? Aku tidak tahu apa yang memotivasimu untuk berbuat demikian. Jika niatmu adalah karena dunia, karena mencari harta dan mengumpulkan bagian-bagian dunia, atau berbangga-bangga dengan teman sepantaranmu, maka celakalah dan celakalah dirimu! Tapi jika niatmu adalah menghidupkan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membina akhlakmu, dan mematahkan jiwa yang suka mengajak kepada keburukan, maka beruntunglah dan beruntunglah engkau!” (Ihya ‘Ulumuddin, hal. 105-106, dinukil dariAdabu Thalibil ‘Ilmi, hal. 35)
Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat kepada penulis khususnya dan kepada kaum muslimin umumnya. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan.
Ya Allah, jadikanlah seluruh amalan kami sebagai amalan yang shalih, dan jadikanlah amalan kami tersebut ikhlas mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan sedikitpun bagian untuk selain diri-Mu dalam amalan kami tersebut. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar seruan hamba-Mu.

Referensi :
Hilyah Thalibil ‘Ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid
Bayaanu Fadhli ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf, Ibnu Rajab Al Hanbali
Ma’alim fii Thariqi Thalabil ‘Ilmi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan

Yogyakarta, 24 Dzulhijjah 1434
Penulis: Yananto Sulaimansyah
Artikel Majalah Muslim.Or.Id

Kamis, 28 November 2013

JANGAN PERNAH JADI KACA...

 

"Palu Menghancurkan Kaca Tetapi Palu Membentuk Baja"

Apa makna dari pepatah kuno Rusia ini ?...

Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu masalah menghantam kita, maka dengan mudah kita putus asa, frustasi, kecewa, marah dan jadi remuk redam.

Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.

Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja. Mental baja adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur disaat masalah dan keadaan yang benar2 sulit tengah menghimpitnya.

Mengapa demikian ?
Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik.

Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yg lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.

Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru.

Jika kita adalah "baja" kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita.

Sebaliknya jika kita "kaca" maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita...


https://www.facebook.com/#!/photo.php?fbid=456951667757763&set=a.226952384091027.47180.100003288015030&type=1&theater

Rabu, 27 November 2013

Tentang Radio Rodja

Tentang Rodja
Saya sedikit mau cerita tentang perkenalan ana dengan Rodja Tv.

Pada waktu itu sekitar 1,5 tahun yang lalu ana pergi kerumah saudara habis isya' kebetulan saudara ana pada waktu itu nonton TV, ana di ajak berbincang-bincang di dalam sambil nonton Tv, pada waktu itu yang ditonton acaranya lawakan, ana tidak suka lalu ana cari channel-channel yang lebih bagus, lalu ketemulah disitu Rodja Tv pada malam itu siaran ulang yang dikaji oleh Ustadz Maududi Abdullah Lc, ana liat terus sampai sekitar 1,5 jam, ana lansung tertarik dengan dakwahnya, ke esokan harinya ana kembali lagi kerumah saudara dengan alasan habis jalan-jalan padahal tujuan ana ingin nonton kajian Rodja Tv karena ana penasaran dengan dakwahnya, lalu ana minta izin buat nonton TV dibelakang,

"Mas Tanyak sama ana; mau nonton apa kamu kok sepertinya tergesa-gesa?.

Ana jawab: g ada mas mau nonton sinetron padahal ana mau nonton rodja Tv yang kebetulan pada waktu itu ana tidak mempunyai receivernya.

Mas; kamu itu laki-laki suka nonton sinetron

Ana: tersenyum saja.

Pada waktu itu ana sendirian langsung ana nonton Rodja Tv kajiannya dibawakan oleh ustadz Abu yahya badrussalam Lc, Alhamdulillah mendengar kajian beliau ana semakin senang dan tertarik.
Setelah selesai ana pulang, nggak enak lama-lama dirumah saudara,
Dan membuat ana semakin penasaran dengan dakwahnya yang menurut ana pada waktu itu, ini dakwah yang lurus.

Dapat 1 mingguan ana balik lagi kerumah saudara kali ini dengan alasan mau nonton sepak bola,
Hehehe berbohong lagi.
Terus ana disuruh langsung kebelakang kalau mau nonton Tv
Nggak basa-basi langsung ana buka Rodja Tv dan siaran lansung dikaji oleh ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc dan setelah nonton kajian beliau, ana lansung berbicara pada diri ana sendiri "INI ADALAH DAKWAH YANG HAQ, DAKWAH YANG LURUS YANG MENGAJAK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA MELALUI PEMAHAMAN PARA SAHABAT"

Terus ana pulang ana ceritakan ke Pak De tentang Rodja Tv, yang pada waktu itu pak de lagi sakit terkena penyakit stroke dan beliau membenarkan apa yang ana ceritakan tentang RODJA TV, padahal pada waktu itu Pak De tidak tahu tentang RODJATV,
Memang ana dan saudara ana selalu di didik oleh beliau untuk slalu Ta'at kepada Allah,
ke esokan harinya ana bercerita lagi, Ana ceritakan tentang dakwah-dakwah yang ana dengar dari Rodja Tv, setelah ana ceritakan; ITU BENAR ujar pak De yang pada waktu itu pak De masih menjadi DPC PKS,

Jelang beberapa bulan ana dan pak De beli Receiver matrik, pada waktu itu juga Pak De langsung mencari channel Rodja Tv, mungkin penasaran dengan cerita ana, setelah ditemukan pada waktu itu pula pak De sering Nonton Tayangan Rodja Tv, lalu pagi-pagi sekali ana dipanggil dan lansung beliau berkata, "RODJA TV INI ADALAH DAKWAH YANG LURUS, DAKWAH MEREKA BUKAN MENGAJAK KEPADA PARTAI,GOLONGAN ATAU KELOMPOK TERTENTU TAPI DAKWAH MEREKA ADALAH DAKWAH YANG HAQ, DAKWAH YANG MENGAJAK UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH & RASULNYA MELALUI PEMAHAMAN PARA SAHABAT, ALHAMDULILLAH ALLAH MENGENALKAN SAYA KEPADA RODJA TV INI ujar Pak De, semenjak itu ana dan Pak De sekeluarga hampir setiap hari nonton kajian RODJA TV, Alhamdulillah sampai sekarang, setelah hampir 1 tahun mengenal manhaj Salaf akhirnya Pak De ana meninggal (semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau & menerima amal-amal kebaikan beliau).

Itulah sedikit perkenalan ana dengan RODJA TV.
*via Rahadian Faisal
 https://www.facebook.com/ustadzariscom?ref=ts&fref=ts#!/ustadzariscom/posts/630874710288831

Selasa, 26 November 2013

Dimana Hatiku Tertawan?

Sungguh menawan sekali menari di depan mata
Siapapun yang melihat tergiur setidaknya untuk mencicipi
Dikejauhan sangat menawan apatah lagi jika didekati duga hati
begitulah ia…cantik..menawan..manis…dan menggoda hati dari sekilas pandangan..
mata hati yang jernih akan melihatnya berbeda..
mata yang dikaruniakan ilmu melihatnya sebagai sebuah perangkap
perangkap yang bisa jadi menolongnya dan membantunya
atau juga sebagai perangkap menuju kebinasaannya..

Dunia….manis dan cantik dengan segala yang menggoda..
ambisi hati yang semata ingin mengejarnya masuklah ia dalam perangkap kebinasaan
adapun yang diberikan untuk melakukan ketaatan dan kebaikan masuklah ia dalam perangkap yang membantunya menuju tujuan tertinggi seorang insan
surga firdaus sangat tidak sebanding dengan dunia
aduhai diri…kejarlah cita-cita sebagaimana orang yang cerdas menuju cita-citanya…
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani).


-Ummu Muhammad-

Senin, 25 November 2013

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz

Ambisi terhadap kehormatan di dunia merupakan batu sandungan bagi setiap muslim dalam menggapai cita-citanya untuk mendapatkan ridha dan cinta Allah. Ketika ia lebih mengutamakan mencari popularitas, pengaruh, jabatan dan kedudukan dari ridha-Nya, ia akan berjalan menyimpang dari jalan Allah.

Diantara ciri orang yang berambisi untuk memperoleh kehormatan dari manusia:
1.      Gila hormat dan pujian serta anti terhadap kritikan
2.      Mudah berfatwa meskipun tanpa ilmu
3.      Suka menjilat dan berbuat nifak
4.      Suka memamerkan amal dan membanggakan keberhasilannya
5.      Mudah berbohong, menggunjing, memfitnah orang lain dan berbuat dzalim
6.      Menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan
7.      Sombong dan dengki
8.      Mengutamakan dunia dari akhirat

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: "Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat..." (Bukhari)

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka".  ( Shahih Riwayat Tirmidzi)

Penyebab dari ambisi terhadap kehormatan adalah mengikuti hawa nafsu yang akan melahirkan cinta dunia. Solusinya adalah takwa, Allah berfirman yang artinya,

"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)".(An-Nazi’aat: 37 – 41)

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa" ( Al-Qashash:83)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (Wafat tahun 795 H) berkata,
"Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dengan jalan mengenal Allah, takut , cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakal, ridha dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya. Dia tidak peduli dengan penilaian manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia dan mereka hormat kepadanya padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridha Allah.

Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Mahapemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang". (Maryam : 96)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: "Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi". ( Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya mencari kehormatan di akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan di dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat. Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dunia yang fana".

Sumber: Kitab "Syarhun Wa Bayaanun li hadiitsi Maa Dzi'baani Jaa'iaani" oleh: Imam Ibnu Rajab rahimahullah.

Jeddah, 13 Muharram 1435 H.

Rabu, 20 November 2013

Indahnya Berhias

Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman & Ustadz Aris Munandar



Di sebuah kos putri…

“Yanti subhanallah, mau pesta kemana?”Tatap seorang temannya tak berkedip pada Yanti yang berdandan tebal bak artis. Yanti menjawab, “Kamu berlebihan deh. Yanti mau ikut pengajian bareng temen-temen, jadi harus bersih dan rapi. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Berangkat dulu ya. Assalaamu’alaykum…”

Setelah Yanti pergi, ada suara heboh Riri yang hendak pergi juga. “Duh Riri tetangga kamarku yang baru pulang dari kampus. Kucel amat. Lho… lho… Ini mo pergi lagi ya, gak mau bersihin wajah dan rapiin bajumu dulu?” Riri menjawab,“Nanti menyebar fitnah lho. Wanita itu kan ujian bagi laki-laki. Riri berangkat ta’lim ya. Assalaamu’alaykum…”

Sepenggal kisah di atas banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak sekali wanita berhias di luar rumahnya dengan alasan kerapian dan kebersihan, sementara di sisi lain banyak juga yang sama sekali tidak memperhatikan penampilannya dengan alasan menjaga kehormatan muslimah. Tahukah saudariku bahwa Islam memiliki tuntunan dalam berhias? Dalam kitabShahih Bukhari disebutkan sebuah hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al Handhalliyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka,
“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkategorikan kondisi dan pakaian yang tidak bagus sebagai suatu hal yang buruk. Semuanya itu termasuk hal yang dibenci oleh Islam. Islam mengajak kaum muslimin secara keseluruhan untuk selalu berpenampilan bagus. Bertolak dari hal itu, seorang muslimah tidak boleh mengabaikan dirinya dan bersikap tidak acuh terhadap penampilan yang rapi dan bersih, terlebih lagi jika sudah membina rumah tangga. Hendaknya ia senantiasa berpenampilan yang baik dengan tidak berlebih-lebihan.
Muslimah yang cerdas akan senantiasa menyelaraskan antara lahir dan batin. Perhatiannya pada penampilan yang baik bersumber dari pemahaman yang baik pula terhadap agamanya. Karena penampilan yang rapi dan bersih merupakan hal yang mulia. Lalu, bagaimanakah tuntunan Islam dalam berhias?

Kebersihan badan adalah kuncinya.
Sudah seharusnya seorang wanita menjaga kebersihan badannya dengan mandi. Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunaian hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ini lebih suci dan lebih bersih.’” (Ibnu Majah dan Abu Daud, derajat haditsnya hasan)
Mandi dapat menghilangkan kotoran sehingga menjauhkan seorang muslimah dari penyakit dan menjaga agar badannya tidak bau. Sehingga ia pun akan menjadi dekat dengan orang-orang di sekitarnya.
Hendaklah seorang wanita juga menjaga hal-hal yang termasuk fitrah yaitu memotong kuku dan memelihara kebersihannya agar tidak panjang atau kotor. Kuku yang panjang akan tampak buruk dipandang, menyebabkan menumpuknya kotoran di bawah kuku dan mengurangi kegesitan pemiliknya dalam bekerja.
Hal lain yang termasuk fitrah adalah mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Hal ini sangat dianjurkan dalam Islam, selain dapat menjaga kebersihan dan keindahan tubuh seorang muslimah. Oleh karenanya, seorang muslimah hendaknya tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku.” (HR. Bukhari Muslim)

Perhatikanlah mulut karena dengannya engkau berdzikir dan berbicara kepada manusia.
Wanita muslimah hendaknya selalu menjaga kebersihan mulutnya dengan cara membersihkan giginya dengan siwak atau sikat gigi dan alat pembersih lain jika tidak ada siwak. Bersiwak dianjurkan dalam setiap keadaan dan lebih ditekankan lagi ketika hendak berwudhu’, akan shalat, akan membaca Al Qur’an, masuk ke dalam rumah dan bangun malam ketika hendak shalat tahajjud. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, hendaknya seorang muslimah menjaga mulutnya dari bau yang tidak sedap.
“Barangsiapa yang makan bawang merah dan bawang putih serta kucai, maka janganlah dia mendekati masjid kami.” (HR. Muslim)
Karena bau yang tidak sedap mengganggu malaikat dan orang-orang yang hadir di dalam masjid serta mengurangi konsentrasi dalam berdzkikir. Maka hendaknya seorang muslimah juga menjaga bau mulutnya di mana pun ia berada.

Rawatlah keindahan mahkotamu.
Sudah seharusnya seorang muslimah menjaga keindahan rambutnya karena rambut merupakan mahkota seorang wanita. Dan hendaknya dia menjaga kebersihan, menyisir, merapikan dan memperindah bentuknya.
“Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud)

Kebersihan pakaian tidak pantas diabaikan.
Islam menyukai orang yang menjaga kebersihan pakaiannya dan tidak menyukai orang yang berpakaian kotor padahal ia mampu mencuci dan membersihkannya. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian kotor, maka beliau pun bersabda,
“Orang ini tidak mempunyai sabun yang dapat digunakan untuk mencuci pakaiannya.” (HR. Imam Ahmad dan Nasa’i).
Jika petunjuk nabi ini ditujukan pada laki-laki, maka terlebih lagi pada wanita karena ia memegang peranan penting dalam rumah tangganya.

Perbaikilah penampilan.
Hendaklah seorang muslimah memperbaiki penampilannya untuk menampakkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.
“Sesungguhnya Allah senang melihat tanda nikmat yang diberikan kepada hamba-hambaNya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Seorang muslimah diperbolehkan untuk menghiasi dirinya dengan hal-hal yang mubah misalnya mengenakan sutra dan emas, mutiara dan berbagai jenis batu permata, celak, menggunakan inai (pacar) pada kuku dan menyemir rambut yang beruban, menggunakan kosmetik alami atau kosmetik yang tidak mengandung zat berbahaya dengan tidak berlebihan. Dan tentu saja berhias di sini bukanlah dengan maksud mempercantik diri di hadapan lelaki yang bukan mahramnya.
Hal yang dapat membantu memperbaiki penampilan seorang muslimah adalah memakan makanan yang bergizi serta tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum.
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al A’raf: 31)
Selain itu juga rajin berolahraga dapat bermanfaat untuk menjaga stamina dan keindahan tubuh serta mempercantik kulit seorang muslimah. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan yang baik dalam hal ini, beliau pernah mengajak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk lomba lari (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Thabrani)

Janganlah tabarruj.
Berhias bagi wanita ada 3 macam, yaitu berhias untuk suami, berhias di depan wanita dan lelaki mahram (orang yang haram dinikahi), dan berhias di depan lelaki bukan mahram.
Berhias untuk suami hukumnya dianjurkan dan tidak memiliki batasan. Berhias di hadapan wanita dan lelaki mahram dibolehkan tetapi dengan batasan tidak menampakkan aurat dan boleh menampakkan perhiasan yang melekat pada selain aurat. Di mana aurat wanita bagi wanita lain adalah mulai pusar hingga lutut[*] sedangkan aurat wanita di hadapan lelaki mahram adalah seluruh tubuh kecuali muka, kepala, leher, kedua tangan dan kedua kaki. Berhias di depan lelaki bukan mahram hukumnya haram dan inilah yang disebut dengan tabarruj.
[*] Demikianlah pendapat banyak ulama. Namun menurut Syaikh Al Albani, pendapat ini tidak ada dalilnya, sehingga aurat di depan wanita sama dengan aurat di hadapan mahram.

Jauhilah cara berhias yang dilarang oleh Islam.
Tidak diperbolehkan untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:
1. Memotong rambut di atas pundak karena menyerupai laki-laki, kecuali dalam kondisi darurat.
“Aku terbebas dari wanita yang menggundul rambut kepalanya, berteriak dengan suara keras dan merobek-robek pakaiannya (ketika mendapat musibah).” (HR. Muslim)
2. Menyambung rambut.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut lain dan wanita yang meminta agar rambutnya disambung.” (HR. Bukhari Muslim)
3. Menghilangkan sebagian atau seluruh alis.
Tertera dalam Shahih Muslim bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallau ‘anhu berkata,“Allah melaknat wanita yang mentato bagian-bagian dari tubuh dan wanita yang meminta untuk ditato, wanita yang mencukur seluruh atau sebagian alisnya dan wanita yang meminta untuk dicukur alisnya, dan wanita yang mengikir sela-sela gigi depannya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla.”
4. Mengikir sela-sela gigi, yaitu mengikir sela-sela gigi dengan alat kikir sehingga membentuk sedikit kerenggangan untuk tujuan mempercantik diri.
5. Mentatto bagian tubuhnya.
6. Menyemir rambut dengan warna hitam.
“Pada akhir zaman akan ada suatu kaum yang mewarnai (rambutnya) dengan warna hitam seperti dada burung merpati, mereka tidak akan mencium baunya surga.” (Shahih Jami’ush Shaghir no. 8153)

Berhati-hati dalam memilih cara berhias.
Sesungguhnya cara berhias sangatlah banyak dan beragam. Hendaknya seorang muslimah berhati-hati dalam memilih cara berhias, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Tidak boleh menyerupai laki-laki.
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat seorang wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Abu Daud)
2. Tidak boleh menyerupai orang kafir.
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
3. Tidak boleh berbentuk permanen sehingga tidak hilang seumur hidup misalnya tatto dan tidak mengubah ciptaan Allah misalnya operasi plastik. Hal ini disebabkan termasuk hasutan setan sebagaimana diceritakan oleh Allah,
“Dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah dan mereka pun benar-benar melakukannya.” (Qs. An Nisa: 119)
4. Tidak berbahaya bagi tubuh.
5. Tidak menghalangi air untuk bersuci ke kulit atau rambut.
6. Tidak mengandung pemborosan atau membuang-buang uang.
7. Tidak membuang-buang waktu sehingga kewajiban lain terlalaikan.
8. Penggunaannya jangan sampai membuat wanita sombong, takabur, membanggakan diri dan tinggi hati di hadapan orang lain.

Wanita santun lebih baik daripada wanita pesolek.
Kita tahu banyak wanita yang berdandan secara berlebihan dan bepergian keluar rumah tanpa mengenal batas waktu dengan mengatasnamakan ‘Inilah rupa kemajuan dan modernitas’.
Sesungguhnya kemajuan dan modernitas bukanlah dengan menentang perintah dan larangan Allah. Ketahuilah Allah Maha Tahu apa yang baik dan buruk untuk hambaNya. Mengikuti kemajuan adalah mengambil hal-hal bermanfaat yang dapat memajukan umat dan membantu kita untuk hidup lebih baik. Dan kita harus memandangnya dari kaca mata kebenaran. Kita mengambil hal-hal yang sesuai tuntunan Islam dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Jauhilah berhias yang dilarang oleh syari’at, wahai saudariku. Sungguh wanita yang keluar rumah dengan penampilan yang berlebihan sebenarnya dia melemparkan dirinya ke dalam api neraka. Sedangkan wanita yang menghiasi jiwanya dengan kesantunan dan berhias sesuai tuntunan Islam adalah wanita yang menempatkan dirinya pada tempat yang mulia.
Maraji’:
  1. Indahnya Berhias (Muhammad bin Abdul Aziz al Musnid)
  2. Sentuhan Nilai Kefikihan untuk Wanita Beriman (Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Bin Abdullah al Fauzan)
  3. Jati Diri Wanita Muslimah (Dr. Muhammad Ali al Hasyimi), Ensiklopedi Wanita Muslimah (Haya binti Mubarok al Barik)
  4. Al Wajiz (‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi)
  5. Kenikmatan yang Membawa Bencana (Jamal bin Abdurrahman bin Ismail)
  6. 40 Hadits tentang Wanita beserta Syarahnya (Manshur bin Hasan al Abdullah)
  7. Manajemen Wanita Sholehah (Khalid Mustafa)
  8. Note: Baca juga: Etika Berhias, karya Amru Abdul Mun’im Salim terbitan at Tibyan.
***
Artikel www.muslimah.or.id

Selasa, 19 November 2013

Kritik Kepada Pemikiran Seseorang

“Kalau kritikan kepada pribadi seseorang lebih dominan daripada kritikan terhadap pemikirannya seseorang itu, maka inilah ciri bahwa hal tersebut hanyalah hawa nafsu yang dibungkus dengan kritik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mencela kemunafikan, tapi sedikit sekali beliau menyinggung tentang orang-orang munafik secara personal, padahal mereka melakukan sebagian kemungkaran dengan terang-terangan.” (twit ulama)

Alangkah dalamnya nasehat ini…kritikan yg kita tujukan pd org lain hy agar org tsb kembali kpd kebenaran dan agar org tsb tdk terjerumus jauh dlm kesalahan bukan kritikan utk menjatuhkan pribadinya..krn bagaimanapun org tsb adlh saudara kita seiman…hy jk org tsb salah memahami maksud dari yang kita sampaikan…udzurkanlah…mungkin dia memang belum yakin dan paham akan kesalahannya……

Begitu pula
“Ketika engkau membenarkan suatu hal yang merupakan kebatilan, maka menunjukkan engkau telah bersekongkol dalam perbuatan tersebut. (Janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat, Annisa:105).”(twit ulama)

Maka kebathilan harus diingkari dgn kritikan thdp pemikiran org tsb bkn pribadinya…Wallohu muwaffiq..

Dan ketika berhadapan dgn kenyataan semua org menolak tuk menerima kebenaran tsb melalui apa yg disampaikan, maka sungguh indahnya nasehat ini..


“Kalau semua makhluk berpaling, tak mau membantumu, maka hadapkan diri pada Sang Khaaliq, mintalah pertolongan padaNya, bertawakallah dan percayakan urusanmu padaNya. “Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung” (QS. At Taubah: 129)”


Ima Aasiyah Ummu Maryam
Yogyakarta

Amal Shaleh Dalam Amal Jama'i



Muqaddimah
Amal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.”

Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kecepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-‘amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.

Tentunya sebelum kita melakukan suatu amalan ada satu hal yang benar-benar menjadi perhatian kita. Hal tersebut adalah niat. Bukankah dengan niat maka kita beramal, tentunya amal tersebut bias menjadi amal shaleh bergantung pada niat kita mengamalkannya. Benarkah sudah ikhlas lillah amal yang kita kerjakan atau amal yang kita lakukan hanya sebagai bentuk loyalitas kita pada liqa kita, murabbi kita atau bahkan jamaah kita. Maka mari bersama meluruskan niat karena hal ini bukanlah perkara yang mudah.

Alloh berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)
niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi)

Apa Itu Amal Shaleh?
Alquran yang agung telah menjelaskan bahwa amal saleh adalah amal yang memenuhi tiga perkara. Jika salah satunya rusak maka amal itu tidak lagi bermanfaat bagi pelakunya pada hari kiamat.
Pertama: Amal itu sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebabnya, Allah berfirman,
وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ
“Semua yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Semua yang dilarangnya, tinggalkanlah. (Q.s. Al-Hasyr [59]:7)
Dia juga berfirman,                                                                                                                
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ {80}
“Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:80)
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.’” (Q.s. Ali-Imran [3]:31)

Kedua: Amalan itu ikhlas (murni) untuk wajah Allah ta’ala.
Sebabnya, Allah berfirman,
وَمَآأُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal, mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Q.s. Al-Bayyinah [98]:5)
Demikian pula firman-Nya,
 “Katakanlah, ‘Sesungguhnya, aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Aku juga diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya, aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku.’ Katakanlah, ‘Hanya Allah yang kusembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.’ Maka, sembahlah olehmu (wahai orang-orang musyrik) apa saja yang kamu kehendaki selain Dia.” (Q.s. Az-Zumar [39]:11–15)

Ketiga: Amalan itu dibangun di atas pondasi akidah yang sahih (keyakinan yang benar), karena amalan itu bagaikan atap, sedangkan akidah bagaikan pondasi.
Allah ta’ala berfirman,
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. An-Nahl [16]:97)[2]

Dan suatu amal shaleh tentunya merupakan suatu bentuk ibadah kita kepada Allah.
Para ulama menyebutkan bahwa dalam beribadah agar bias diterima oleh Allah harus memenuhi dua syarat,
1.    Ikhlas untuk Allah Ta’ala.
2.    Sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Hal ini berangkat dari suatu hadits yg sangat penting yaitu hadits dariaisyah radhiallahu anha
عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردرواه البخاري ومسلم , وفي رواية لمسلم من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)


Betapa pentingnya kita untuk ikhlas dan betapa pentingnya kita untuk mengilmui bagaimana sebenarnya hal-hal yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Agar segala amal shaleh kita diterima di sisi Allah. Tidak ada jalan lain untuk mengetahui sunnah nabi kecuali dengan menuntut ilmu syar’I dan selalu memperbaiki niat kita ketika beramal hanya kita tujukan dan murnikan untuk mengharapkan pahala dari Allah.

Amal Jama’i
Mengacu pada pengertian yang telah disebutkan di atas, maka amal jamai pun masuk dalam amal shaleh yang secara langsung menjadi ladang ibadah bagi kita. Namun yang sangat perlu kita perhatikan adalah bagaimana amal jamai yang kita lakukan dibangun atas ilmu bukan atas persangkaan bahwa yang kita lakukan dalam beramal jamai adalah sebuah kebaikan. Kebaikan tidak diukur atas persangkaan seseorang, organisasi ataupun suatu wadah amal jamai, tapi hakikatnya kebaikan adalah apa-apa yang ditimbang oleh dalil-dalil dan kaidah-kaidah syar’I bahwa hal tersebut adalah suatu kebaikan.

Ingatlah firman Alloh, “Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103, 104). Siapakah yang lebih rugi dari orang semacam ini? yang telah beramal dengan susah payah sewaktu masih hidup di dunia tapi ternyata sia-sia dan tidak diterima oleh Alloh Ta’ala.

Beberapa ciri Amal Jama’i
1. Aktivitas yang dijalankannya harus berdasarkan keputusan jamaah
2. Mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan aktivitas dijalankan secara rapi dan tersusun
3. Tindakan dan kegiatannya sesuai dengan strategi pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah
4. Seluruh kegiatannya bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama.
Islam sangat menghargai keputusan yang membawa mashlahat. Maka sangat perlu untuk membuat keputusan dalam jamaah yang mengedepankan mashlahat bersama. Bukan sekedar mashlahat duniawi tapi lebih kepada mashlahat diniyah. Dimana keputusan tersebut tentunya dibangun atas ilmu tidak serta merta berdasarkan pertimbangan pribadi bahwa hal tersebut baik. Untuk mengetahui bahwa sesuatu itu bermashlahat atau bermafsadat tentunya jamaah harus mempunyai kapasitas ilmu syari yang memadai dengan meninjau kaidah-kaidah syar’i karena berkaitan ddengan kegiatan amaliyah maka paling tidak keputusan itu dibahas oleh orang yang berkompoten dalam sisi kaidah-kaidah aqidah dan fiqhiyah.
Mengorganisasi dakwah, mengatur dakwah tidak terlarang bahkan merupakan perkara yang baik. Namun jika dengan alasan ini kemudian melakukan hal-hal yang dilarang syariat maka tidak boleh mencegah kebatilan dengan kebatilan yang lain. Perlu diketahui bahwa tujuan adanya organisasi bukan untuk menjadikan loyalitas kita pada organisasi tersebut atau jamaah tersebut. Maksudnya, ketika kita berorganisasi tentunya tujuan kita adalah ibadah dan ketika suatu jamaah keluar jalur dari garis ibadah yang benar maka dalam hal ini tidak berlaku adanya loyalitas pada jamaah tersebut. Kenapa? Karena jika kita tetap berloyalitas dlama suatu hal yang sudah keluar jalur itu sama saja kita berta’awwun dalam maksiat. Bukankah kita diperintahkan untuk saling manasehati, lalu ketika jamaah salah dalam mengambil keputusan yang menyelisihi kaidah syar’i maka loyal dalam hal ini tidak berlaku agar tidak terjerumus dalam bentuk taawwun yang dicela. Dan kewajiban kita adalah menasehati ketika kita tahu bahwa hal tersebut adalah sebuah kekeliruan. Maka sikap yang paling selamat ketka mendapatkan nasehat adalah menerima nasehat tersebut karena itu adalah bukti bahwa sang penasehat adalah orang yang mencintai jamaah. Sang penasehat tidak ingin jika kekeliruan itu berlanjut. Dan merupakan suatu cela ketika nasehat tersebut disalah artikan ingin memecah belah barisan jamaah. Aduhai kiranya bisa dibedakan antara kasih dan benci karena Allah.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya adalah seperti bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lainnya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/450 - Fathul Bari) dan Muslim (2585), pent.]
Dan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah seperti tubuh. Jika mengeluh salah satu anggota dari tubuh tersebut, akan merasakan seluruh jasad baik dengan demam atau tidak bisa tidur. [Bukhari (X/347 - Fathul Bari) dan Muslim (2586), pent.]

Semoga kita selalu meluruskan niat kita dalam beramal yang khusus untuk diri kita pribadi sebagaimana shalat dan amalan munfaridhah lainnya.dan juga memperbaiki niat kita ketika beramal jamai. yang tentunya semua itu harus dibangun di atas ilmu yang sesuai dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.


Allahumaj’alna minal mukhlisin wa aqbil a’maalana…aamiin..Allahumma Aamiin.



Ima Aasiyah Ummu Maryam
Yogyakarta